Toleransi

“SALAH DIBENARKAN ATAU BENAR DISALAHKAN”

  Toleransi, sebuah kata yang akhir-akhir ini sangat sulit untuk dilakukan. Pagi itu sekitar pukul 08:45 WITA, aku terbangun dari tidurku. Aku melangkahkan kaki ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahku. Aku untuk menonton sekedar untuk mencari berita-berita terkini. Dan seperti kemarin, isi dari berita masih sama yang membahas tentang kasus yang ramai dibicarakan belakangan ini. Ya... kasus tentang dugaan penistaan agama oleh salahsatu pejabat pemerintahan. Tak habis-habisnya berbagai ormas melancarkan berbagai aksi yang mengaku membela agama, memperjuangkan keadilan, yang mengaku membela hal yang benar tanpa sadar pada apa yang mereka lakukan benar atau salah. Memang, negara ini adalah negara demokrasi yang bebas untuk menyampaikan berbagai aspirasi. Tapi bukan berarti kita bisa seenaknya melakukan apa yang kita mau. Jangan jadikan demokrasi jadi democrazy. Tidak kah kita bisa belajar dari berbagai kisah-kisah kelam tentang sikap intoleransi yang pernah terjadi pada masa lalu. Seperti kasus peristiwa Tolikara yakni pembakaran rumah ibadah masjid dan juga Aceh Singkil terkait bentrok warga akibat pembongkaran rumah ibadah gereja pada tahun 2015.
 Pada tanggal 1 juni kemarin, bangsa kita, bangsa Indonesia memeperingati hari lahirnya Pancasila. Pancasila sebagai dasar dari Negara Indonesia. Pada saat itu, aku sempat mebuka media sosial seperti facebook, line, instagram dan BBM. Aku sempat melihat banyak orang yang membuat status mengungkapkan selamat hari Pancasila. Aku masih bersyukur karena masih banyak orang-orang di Negeri ini yang masih mengingatnya. Tetapi aku sempat berfikir, apakah mereka masih mengingat dan menanankan arti dari PANCASILA itu sendiri. Diamanakah arti dari semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA, apakah mereka masih menanamkan semboyan itu dalam hati dan fikiran mereka. Ataukah itu hanyalah kata “hiasan” yang sudah tak memiliki makna. Bukankah dari sekolah dasar (SD) kita sudah mengenal PANCASILA, atau itu hanyalah sebagai “pajangan” yang terpampang rapi di berbagai instansi-instansi pendidikan maupun pemerintahan yang tidak memiliki arti.
Sekarang pelaku penistaan agama telah dipenjarakan. Mereka yang selama ini mati-matian berjuang untuk memenjarakan pelaku penistaan agama mungkin sudah merasa bahagia. Akan tetapi masalah tidak selesai dengan dipenjarakannya penista agama tersebut.
 Belakangan ini, diberbagai daerah marak aksi yang disebut “Aksi Seribu Lilin”, ratusan bahkan mungkin ribuan orang turun kejalan, menyalakan lilin, meneriakkan “Save NKRI, Save Ahok, NKRI harga mati”. Aku semakin berfikir, kapan ini akan berkhir, saat satu pihak telah puas, ada pihak lain yang merasa tidak puas. Mungkin kedua kubuh ini akan sama-sama merasa bahagia jika Negara yang kita cintai ini hancur. Entah kapan masalah ini akan berakhir, entah kapan negara ini bisa damai dan entah kapan bangsa ini akan sadar dan mengerti apa arti dari semboyan negara kita.
Aku hanya berharap kasus seperti ini tak akan terulang lagi. Aku hanya berharap mereka akan sadar betapa indahnya hidup ber-toleransi. Manusia diciptakan untuk hidup berdampingan, tak peduli apa suku, ras dan agama yang kita percayai. Ataukah kita akan selamanya menjadi orang bodoh yang menghancurkan negara sendiri. Bukankah lebih indah jika kita bisa hidup saling menghargai satu dengan yang lain. Jangan pernah mengangu orang Indonesia jika kalian belum bisa hidup berdampingan dan menghargai perbedaan karena Negara Indonesia adalah negara yang berpondasi pada PANCASILA yang mana PANCASILA memiliki semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA yang berarti Berbeda-beda Tapi Tetap Satu.








Komentar